"Situasi Covid-19 dan lingkungan mendorong perubahan dan mendisrupsi. Demografi 55 persen di bawah usia 35 tahun juga mendorong perubahan kebiasaan. Ekonomi digital tumbuh delapan kali lebih cepat," ujar Erick Thohir.
Pengembangan teknologi dan digitalisasi, tutur Menteri BUMN, menjadi keharusan untuk mempersiapkan 2nd & 3rd wave digital disruption yang mulai terjadi.
"Kita harus memikirkan bagaimana caranya mengisi kemerdekaan dengan kedaulatan pangan, energi, maupun ekonomi. Ekonomi digital adalah ekonomi masa depan kita (Indonesia) dengan kesempatan dan market besar," tutur Menteri BUMN.
Warga, kata Erick Thohir, harus bersama-sama membangun Indonesia dengan peran masing-masing. Ada yang membangun infrastruktur, masyarakat digital, dan ekosistemnya. Era ini harus mendorong kelahiran inovasi-inovasi baru dan berupaya membangun konektivitas. BUMN berupaya mendorong untuk meningkatkan konektivitas dalam membangun Indonesia.
Erick mengatakan, pertumbuhan ekonomi, tidak boleh hanya mengandalkan SDA, tetapi juga perlu diperkuat oleh knowledge based economy. Dengan memiliki growth mindset, generasi muda menjadi lebih agile dan adaptif.
Perguruan tinggi harus bersiap diri, menghadapi kondisi pekerjaan yang diprediksi akan hilang dalam beberapa tahun ke depan. Indonesia memerlukan 17 juta tenaga kerja yang tech-savy, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) diharapkan dapat mendorong pengembangan pendidikan dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
"Beberapa program pembekalan yang diperlukan untuk memacu terbentuknya digital talent Indonesia antara lain, BUMN Digital Behaviour & Mindset, Intrapreneur Fundamental: Unlock Mindset as an Employee, dan Growth Mindset in Digital Era," ucapnya.