BANDUNG, iNews.id -Kota Bandung merayakan hari lahir ke-211 pada 25 September 2021 lalu. Penetapan hari lahir Kota Bandung ini didasarkan pada besluit atau surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daenndels pada 25 September 1810.
Dikutip dari berbagai sumber, sejarah Kota Bandung secara resmi dimulai di masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda pada abad ke-19. Kota Bandung didirikan oleh dan atas kebijakan Bupati Bandung ke-6 RA Wiranatakusumah II yang memerintah selama 35 tahun, 1794-1829.
Namun tonggak sejarah pendirian Kota Bandung diawali jauh sebelum surat keputusan HW Daendels itu terbit. Dikisahkan, Belanda membangunan Jalan Raya Pos dari Anyer di Banten hingga Panarukan, Jawa Timur. Dalam proses pembangunan jalan ini, penjajah Belanda memberlakukan kerja paksa atau rodi hingga menewaskan banyak nyawa.
Di Kota Bandung, Jalan Raya Pos membentang dari Jalan AH Nasution, kawasan Cibiru hingga Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Jalan Ahmad Yani dan Asia Afrika menjadi bagian dari jalan tersebut.
Saat pembangunan jalan berlangsung, RA Wiranatakusumah II memutuskan memindahkan pusat pemerintah dari Krapyak atau Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung ke Dalem Kaum, Kota Bandung.
Saat ini, Pendopo Kota Bandung yang merupakan tempat tinggal sekaligus pusat pemerintah RA Wiranatakusumah masih berdiri kokoh. Bangunan bersejarah yang bersebarangan dengan Masjid Raya atau Masjid Agung Bandung dan alun-alun tersebut kini jadi rumah dinas Wali Kota Bandung.
Pada 1810, Gubernur Jenderal Hindia Belanda HW Daendels dan Bupati Bandung RA Wiranatakusumah II jalan-jalan di jalan yang baru dibangun itu. Tiba di satu titik, HW Deandels menancapkan tongkatnya.
Di sini, Daendels mengucapkan kalimat dalam bahasa Belanda: “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd (Coba usahakan, bila aku datang kembali di tempat ini telah dibangun sebuah kota),” kata HW Deandels.
Di titik tempat HW Deandels menancapkan tongkat tersebut kini dijadikan sebagai kilometer (Km) 0 Kota Bandung. Di sini, didirikan tugu Titik Nol Kilometer (0 Km) Bandung, tepat di depan Kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (PUTR) Jawa Barat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung.
Tugu Kilometer Nol diresmikan pada 2004 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu Danny Setiawan. Tugu tersebut saat ini menjadi ajang selfie atau berswafoto para wisatawan yang sedang melintas atau sengaja datang.
Pada 2016, tugu 0 KM Bandung direnovasi menjadi tampak lebih elegan dan menarik dengan berbagai elemen estetis dan patung dada empat tokoh di samping kiri dan kanannya.
Keempat replika tokoh tersebut, yakni Presiden RI pertama Ir Soekarno, Gubernur Jenderal Hindia Belanda HW Daendels, RA Wiranatakusumah II, Mas Soetardjo Kartohadikusumo.
Di tugu Km 0 Kota Bandung, terdapat monumen mesin penggilingan (stoomwals) kuno yang disertai sebuah batu prasasti. Tugu dan moumen ini didekasikan untuk rakyat Priangan yang menjadi korban pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan.
HW Daendels
Herman Willem Daendels lahir di Hatem, Belanda, pada 21 Oktober 1762. Dia merupakan politikus Belanda dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 dengan masa jabatan tiga tahun, 1808-1811.
Tugas utama Daendels di Indonesia adalah mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Usaha yang dilakukannya adalah dengan cara membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan sepanjang 1.000 kilometer.
Jalan ini dikenal dengan nama Grote Post-Weg (Jalan Raya Pos). Dengan tangan besi, Daendels membangunan jalan ini hanya menghabiskan waktu satu tahun yaitu dari 1809 hingga 1810.
Pembangunan jalan ini tentu saja menuai kontroversi. Sejarah tidak pernah menyebutkan manfaat dari pembangunan jalan itu. Hasil kopi dari pedalaman Priangan yang biasanya dibiarkan membusuk di gudang-gudang kopi akhirnya dapat diangkut diangkut ke pelabuhan Cirebon dan Indramayu.