"Kalau dulu menjelang lebaran, jalan ini selalu ramai. Bukan cuma saat mudik tapi akhir pekan juga karena banyak warga Jakarta yang berwisata ke Bandung. Tapi sejak ada Tol Cipularang tahun 2005, praktis jalur ini jadi sepi," ujar Tedi.
Kades Ciptagumati menuturkan, sebelum tol dibangun di sepanjang jalur Cikalongwetan terdapat jongko penjual aneka makanan, oleh-oleh, dan kerajinan khas warga. Di lokasi ini terdapat dua rest area, yakni Warung Jati dan Cihamerang.
Bahkan, tempat itu dikenal sebagi lokasi nanas khas Cikalongwetan. "Biasanya di rest area itu menjual makanan khas Bandung mulai dari opak, kicimpring, manisan, kripik, hingga tape atau penyeum," tutur Kades Ciptagumati.
Penuturan senada disampaikan Ii Sasmita (72), juru parkir yang sempat bertugas Rest Area Cihamerang. Di tahun 2000-an, sedikitnya ada 400 kepala keluarga termasuk dirinya yang menggantungkan hidup dengan cara berjualan di dua rest area tersebut.
Saking ramai dan padatnya pengendara yang beristirahat saat musim mudik lebara, dua rest area itu kerap jadi pemicu kemacetan karena banyak keluar masuk kendaraan. Ekor kepadatan mengular hingga jalan depan Pabrik Teh Panglejar.
"Dulu tempat ini ramai, ekonomi warga hidup. Saya dulu tahun tahun 90-an dapat penghasilan Rp500/hari tapi kalau lagi mudik bisa sampai Rp10.000/hari," ucap Tedi. ADI HARYANTO