Dampak dari pandemi pun dirasakan cukup berat terutama dari aspek pemasaran. Akan tetapi, pantang bagi Tony untuk menyerah dan menghentikan produksinya. Dengan semangat pantang menyerah itulah, Tony akhirnya masih bisa bertahan dan bisa menghidupi ekonomi keluarga.
"Di masa pandemi ini omzet turun hingga 70 persen. Selama ini terbantu dengan pelanggan tetap yang selalu setia memesan barang," kata Tony.
Dari setiap gelas kayu yang dibuat Tony biasanya dijual dengan harga Rp25.000 hingga Rp 75.000. Untuk penjualan satu set gelas kopi beserta alasanya di banderol dengan harga Rp250.000 hingga Rp300.000 saja.
"Kami berharap situasi pandemi ini bisa segera berakhir. Dengan adanya pandemi sangat luar biasa kepada masyarakat, terutama bagi pelaku usaha kecil," kata dia.
Sementara itu, Ketua UMKM Sumedang, Titus Diah mengatakan, sejak pandemi Covid-19, pelaku UMKM di Sumedang menurun drastis sehingga banyak mengurangi produksi. Dia bisa berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan lagi para pelaku UMKM.
"Saya rasa sudah waktunya pemerintah lebih memperhatikan pelaku UMKM. Sebab kalau sebatas pemberian beragam bantuan sosial, saya rasa tidak akan bisa memulihkan ekonomi," ucapnya.