Selain itu, dibicarakan juga mengenai peresmian nama Jalan Eddy Sukardi sebagai kelanjutan dari Jalan Didi Sukardi yang merupakan jalan provinsi di Kabupaten Sukabumi. Didi Sukardi merupakan eyang atau kakek dari Airlangga Hartarto.
Menyikapi pertemuan tersebut, pakar politik dan pemerintahan Universitas Padjadjaran (Unpad) Firman Manan mengatakan, pertemuan antara kedua tokoh tersebut bukan hanya dilihat subtansi, tapi juga simbol. Pertemuan terjadi tentu ada latar belakang.
Menurut Firman, orang tidak bisa melepaskan hal itu dari agenda Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Pasalnya, Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Golkar tentu menjadi salah satu kandidat yang digadang-gadang, termasuk Ridwan Kamil yang namanya sering muncul dalam berbagai survei.
"Memang tidak bisa dilepaskan (publik mengaitkan dengan Pilpres 2024). Saya pikir pertemuan ini dari konteks 2024, paling tidak ini memang upaya untuk membangun komunikasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi terkait dengan kandidat-kandidat yang punya peluang untuk kemudian diusung oleh Partai Golkar di tahun 2024," kata Firman.
"Apalagi tadi, misalnya Kang Emil menggunakan baju kuning, tapi setahu saya memang ketika beliau saat bertemu dengan beberapa tokoh politik memang menyesuaikan," ujarnya.