Namun, Kiai Hasyim Asy’ari mengatakan “tunggu dulu Singa Jawa Barat belum datang”. Baru diketahui kemudian, bahwa yang dimaksudkan “Singa Jawa Barat” adalah Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon yang memiliki kelebihan ilmu karomahnya.
Dikutip dari syekhnurjati.ac.id, Erik Syarifudin Baharsyah dalam skripsinya berjudul “Peran Kiai Abbas Buntet Dalam Pertempuran Surabaya 1945” mengungkapkan, Kiai Abbas datang ke Surabaya bersama adiknya Kiai Anas yang mempunyai kemampuan membaca situasi yang memang belum terjadi. Karena itu, Kiai Annas selalu berada di belakang Kiai Abbas untuk melindunginya.
Atas restu Mbah Hasyim Asy’ari, berangkatlah Bung Tomo, Kiai Abbas dan lainnya bertempur melawan Tentara Sekutu di garda terdepan.
Kiai Abbas pada saat melakukan perlawanan terhadap tentara Sekutu Inggris dan NICA di Surabaya, terjadi cara perlawanan yang sukar dilogikakan.
Dengan kelebihan ilmu karomahnya, Kiai Abbas dapat meruntuhkan pesawat terbang Tentara Sekutu hanya dengan mengarahkan tongkatnya ke pesawat terbang.