Saat ini, sudah banyak warung yang diisi arumanis kapas buatannya hingga ke pelosok, seperti daerah Pabuaran, Ciasem dan Cipeundeuy. Dengan banyaknya warung yang diisi otomatis perlu penambahan tenaga kerja. Hingga akhirnya sebanyak 15 orang direkrut untuk menjadi pekerjanya.
"Alhmadulillah omzet per minggunya sebesar Rp18 juta. Mesin pembuat arumanis juga bertambah menjadi 2 unit," ujar dia.
Menurutnya, menjadi korban PHK ternyata tidak segalanya berakhir. Banyak yang bisa dilakukan untuk menopang kebutuhan ekonomi. Satu-satunya cara adalah dengan berwirausaha, asalkan digeluti dengan serius ulet dan tidak mudah menyerah. "Pastinya dengan sikap begitu setiap peluang bisa menjadi maksimal," ucapnya.