Piala Dunia U-20, kata Prof ADang, kesempatan rakyat Indonesia bisa melihat langsung bintang-bintang dunia di even akbar tersebut. "Bukan tidak mungkin ada pencari bakat yang biasanya mantan bintang tertarik memboyong pemain Timnas U-20 kita," ucapnya.
Namun, ujar Prof Adang, masih banyak pihak yang mengkritik atas kebijakan dan langkah PSSI, "Alasannya banyak, Timnas bisa bagus karena pelatihnya bagus, pemainnya bagus, dan lainnya. Padahal penunjukkan pelatih tentu harus dari persetujuan Iwan Bule," ujar Prof Adang.
Pada era Iwan Bule, tutur dia, wasit-wasit bermasalah diancam tidak bisa dipanggil lagi untuk memimpin pertandingan. Hal ini menyebabkan kompetisi menjadi lebih sehat dan tim-tim pun berusaha memaksimalkan kemampuan untuk jadi yang terbaik.
Di sisi lain, tutur Prof Adang, Iwan Bule mampu menyelamatkan PSSI dari pandemi Covid-19. Bahkan di masa suram pandemi itu, para pekerja yang menggantungkan hidupnya di PSSI tidak ada yang dipecat. "Saya dengar gajinya pun utuh," tuturnya.
Koordinasi dengan pihak-pihak stakeholder pun, kata Prof Adang, menjadi penting, "Sepak bola itu harus dibangun dengan gotong royong. Gotong royong bisa hidup kalau jalinan komunikasi bagus. Iwan Bule punya kepiawaian berkomunikasi dengan pemerintah, baik Presiden, Menpora, maupun dengan sponsor. Sehingga sepak bola didukung oleh banyak pihak," kata Wakil Rektor 2 yang juga Dosen Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI ini.
Sementara itu terkait dengan isu pencalonan Gubernur Jabar, menurut Prof Adang hal itu sah-sah saja berkembang di masyarakat. Hanya saja kata dia, Iwan Bule diminta untuk fokus dulu mengurus sepak bola nasional. "Urusan Pilgub Jabar mah belakangan, kalau prestasi sepak bolanya bagus, rakyat pasti bisa menilai sendiri," ucap Prof Adang.