"Parpol yang jumlah kursinya paling banyak maupun sebaliknya, penetapan cagub tetap harus disepakati semua partai koalisi," tandasnya.
Seiring berjalannya waktu, tutur Sidkon, setiap partai pendukung mengajukan bakal cawagub yang akan mendampingi Kang Emil. Lalu, muncul beberapa nama seperti Uu Ruhmazul Ulum dari PPP, NasDem menyodorkan Saan Mustofa, dari PKB Syaiful Huda, dan Golkar memunculkan Daniel Mutaqin.
"Kemudian kami (PKB) mendapat info Golkar mencabut usungan untuk Kang Daniel sebagai pendamping Kang Emil," katanya.
Lepas dari itu, kata Sidkon, komitmen awal penetapan calon gubernur berdasarkan musyawarah itu harus tetap dijalankan. Sebab, musyawarah merupakan komitmen bersama. "Tapi jika komitmen penetapan calon gubenur itu tidak dijalankan berdasarkan musyawarah partai pengusung, maka hanya satu kata dari PKB buat Kang Emil, good bye (selamat tinggal)" tandasnya.
Seperti diketahui, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menjadi kandidat pertama yang mendapatkan tiket untuk maju di Pilgub Jabar 2018. Dukungan dari empat partai politik yakni Partai Nasdem (5 kursi), PKB (7 kursi), PPP (9 kursi), dan Golkar (17 kursi) memuluskan langkah Emil mulus melenggang di Pilkada Serentak 2018. Total 38 kursi di parlemen dipegangnya.
Namun, hilangnya dukungan 17 kursi yang dimiliki Golkar membuat jumlah dukungan terhadap Ridwan Kamil berkurang menjadi 21 kursi. Meskipun masih mencukupi sebagai syarat utama koalisi parpol dalam mengusung pasangan calon, tetapi jumlah ini akan terancam jika PPP mengikuti langkah Golkar. Ridwan Kamil akan kembali kehilangan 9 kursi jika PPP mengikuti langkah Golkar mencabut dukungan di Pilgub Jabar 2018.