Akan tetapi, keindahan panorama alam dan fasilitas lengkap tersebut harus terkendala soal akses masuk. Kondisi jalan sepanjang 1,5 km dari Jalan Raya Kiarapedes-Sagalaherang menuju lokasi, kondisinya rusak parah. Aspalnya banyak mengelupas dan berlubang serta beberapa ruas jalan hanya berupa hamparan batu. Sementara jalur yang dilalui terbilang sempit dengan medan menanjak terjal dan terdapat beberapa tikungan tajam. Sehingga wisatawan harus ekstra hati-hati saat melintasi jalur itu.
Ketua Karang Taruna yang ikut mengelola Wisata Ujung Aspal, Waluyo (38) mengatakan, sempat ada wacana akan ada pembangunan jalan menuju kawasan wisata. Namun, rencana pembangunan di tahun 2021 belum ada kabar kembali kapan akan direalisasikan.
"Kami sudah menanyakan rencana pembangunan tempo hari. Tapi belum ada jawaban pasti terkait rencana itu," kata Waluyo kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (11/4/2021).
Dia menyebutkan, tempat wisata ini dikelola oleh Perhutani dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) serta Karang Taruna. Adapun luasannya mencapai 27 hektare dan baru terkelola sekitar 4 hektare.
Beberapa spot wisata andalan di kawasan itu, yakni jembatan gantung, Curug Pamoyanan dan Situs Goa Panyileukan. Tidak kurang 1.000 wisatawan yang selalu berwisata di Ujung Aspal dengan mengunjungi ketiga spot andalan tersebut. Biasanya wisatawan membeludak di saat akhir pekan atau libur panjang.
"Kami berharap potensi besar kawasan wisata ini direspons pemerintah kabupaten atau provinsi. Di masa pandemi ini Wisata Ujung Aspal cukup membantu ekonomi warga sekitar. Kami berharap Covid-19 bisa segera berakhir," ucap dia.