Merespons cerita Ella, Ganjar Pranowo menekankan perlu pengemasan produk untuk pembeli. “Produknya dapet, kemasan dan expired dijalankan. Kalo ini mau export, siapkan dengan Bahasa Inggris, kalo mau lokal gapapa. Packaging dan desain itu berpengaruh. Naka nanti akan naik kelas,” kata Ganjar.
Pertanyaan lain datang dari Heri, dari asosiasi perjalanan wisata di Tasikmalaya. Heri menceritakan tentang tempat wisata di Tasikmalaya masih sepi peminat. Padahal objeknya berlimpah dan bisa menjadi sebuah ladang usaha.
Selain itu, dia mengeluhkan masih ada tempat wisata yang melakukan pungutan liar (pungli) kepada pengunjung.
“Sering kita bahas banyak tempat wisata bisa dipasarkan tapi belum booming. Terus bakal tempat wisata yang katanya gratis tapi tetap bayar (pungli) juga ujung-ujungnya,” kata Heri.
Ganjar mengatakan, perlu ketegasan dalam menjalankan sebuah regulasi. Termasuk terkait pungutan liar. “Langsung laporkan. Kalo mandek, langsung lapor atasan,” kata Ganjar.
Diskusi berjalan sangat cair dan berlangsung kurang lebih 30 menit. Sebelum mengakhiri pertemuan, Ganjar berfoto bersama dengan para pengusaha lokal se-Tasikmalaya.