Prof Nina mengemukakan, berbeda dengan Kerajaan di Jawa Tengah dan Timur, berdasarkan peninggalan sejarah, ibu kota atau pusat kekuasaan kerajaan Galuh berpindah-pindah.
Bermula di daerah di dekat Banjar saat ini, lalu berpindah wilayah yang saat ini menjadi perbatasan Ciamis-Banjar, serta kembali pindah ke daerah Kawali.
“Di Kawali itulah kami menemukan sumber yang bisa dipercaya tentang Galuh, yaitu enam prasasti yang menyebutkan berbagai peristiwa tentang kerajaan Galuh,” ujar Prof Nina.
Kerajaan Galuh, tutur Prof Nina, memiliki ibu kota berpindah menyebabkan perbedaan karakteristik kerajaan Sunda dengan kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kkerajaan Sunda cenderung memiliki tinggalan sejarah berupa bangunan candi yang lebih sedikit dibanding di wilayah tengah dan timur. Ini disebabkan, masyarakat Sunda saat ini bukan sebagai masyarakat menetap.
“Karena berpindah-pindah jadi tidak punya waktu membangun candi besar. Di Jateng dan Jatim masyarakatnya petani sawah, sehingga cukup punya waktu membangun bangunan monumental,” tutur Prof Nina.