Kang Dedi memberi makanan kepada sapi-sapi itu untuk terakhir kali. Dia meracik sendiri makanan dalam satu ember yang kemudian dibawakan satu per satu kepada sapi. Bagi Kang Dedi, sebelum berpisah para sapi harus disenangkan hatinya dan dibahagiakan. Di pun berharap kelak saat dipotong sapi-sapi tersebut tidak akan merasakan sakit.
“Kalau di Indonesia itu kadang masih terasa sakit, kadang masih ada yang ngamuk saat dipotong. Sekarang tidak boleh lagi lah ada kejadian seperti itu. Makanya harus tenang damai,” ujar Kang Dedi.
Bahkan, Kang Dedi meneteskan air mata saat dia menghampiri satu sapi putih bertubuh besar kesayangannya. Baginya, sapi yang paling tinggi dan besar tersebut paling baik di antara yang lain. Kang Dedi pun tertunduk meratapi sapi itu.
Dengan posisi kepala saling beradu, sapi dan Dedi sama-sama meneteskan air mata. “Sedih juga. Setiap hari diliatin, dirawat dengan hati, sekarang mau dilepasin. Ini paling baik di antara yang lain. Orang kalau pakai hati jangankan manusia, sama hewan saja kita sayang,” tuturnya.
Meski demikian Kang Dedi tetap ikhlas dan merelakan sapi-sapinya itu keluar dari kandang untuk dikurbankan. Sebab baginya sapi-sapi tersebut adalah makhluk mulia yang harus dimuliakan.