"Kalau seperti ini bukan APBD namanya, tapi jadi ABPD karena mendahulukan belanja ketimbang pendapatan. Makanya defisit anggaran menjadi besar karena kita tidak fokus dalam masalah pendapatan," kata Asep Aang, Selasa (22/8/23).
Asep Aang mengatakan potensi pendapatan daerah masih cukup tinggi jika eksekutif dan legislatif serius dalam mendongkrak pendapatan. Salah satunya adalah dengan mendorong OPD (organisasi pemerintah daerah) yang menghasilkan PAD (pendapatan asli daerah) agar meningkatkan pendapatannya.
"Kalau serius ditangani setiap OPD penghasil PAD harusnya bisa meningkatkan pendapatan. Ada sekitar 10 OPD yang menghasilkan PAD namun tidak maksimal dan belum sesuai dengan yang ditargetkan," ujar dia.
Meski mengalami defisit anggaran yang cukup besar, namun Asep Aang optimistis akan bisa menutup jika 10 OPD penghasil PAD bisa bekerja secara maksimal. Selain itu jika dibutuhkan pemangkasan anggaran bisa mengurangi defisit yang ada sekarang.
"Kami masih bekerja keras untuk menutup defisit ini, apakah itu dengan meningkatkan pendapatan atau bisa juga dengan pemangkasan anggaran," ujarnya.