Selanjutnya, pada masa transisi, jika sudah dianggap aman dalam dua bulan akan diuji coba maksimal 50 persen siswa boleh ke sekolah, yang lainnya di rumah. "Jadi kita menerapkan metode blended learning, ada campuran antara daring dan PTM," ucapnya.
Kemudian, lanjut dia, dilakukan adaptasi kebiasaan baru 50-100 persen. Namun pertimbangannya tergantung penyebaran Covid-19 di setiap wilayah di Kota Bandung, dengan konsultasi ke Satgas Covid-19.
Bambang pun menilai idealnya KBM memang harus dilakukan dengan tatap muka karena terjadi interaksi antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Siswa pun bisa langsung konsultasi dengan gurunya, atau menyampaikan ide serta gagasan yang kritis.
"Harusnya masa-masa jam 7 sampai jam 12 itu anak belajar mengeksplorasi pengetahuan dan keterampilan, tapi kemudian ketika ruang dan waktu seperti itu tidak ada yang melihat, maka saya katakan terjadi lost cognisi," katanya.
Terkait kesiapan sekolah, Bambang pun mengatakan pihak sekolah bisa memanfaatkan dana BOS untuk mempersiapkan sarana dan prasarana, terutama dalam pengadaan standar protokol kesehatan.
Selain itu, satgas khusus di sekolah juga akan disiapkan seperti satgas pembelajaran, satgas pengamanan, dan protokol kesehatan itu semua sudah disiapkan, hingga pengaturan jadwal masuk dan pulang yang tidak berbarengan.
"Begitu masuk itu akan disosialisasikan ke sekolah, agar tidak terjadi kerumunan, seperti jalur masuk dan keluar, tanda silang di serambi, jaga jarak para siswanya," katanya.