“Gak, Pak. Sebejat-bejatnya orang tua kalau ke anak mah saya larang,” jawab Diki.
Diki yang merupakan pentolan dari kelompok tersebut mengaku tiga anaknya tak pernah tahu apa yang dilakukan di jalan. Sang anak hanya tahu orang tuanya mencari uang untuk dibawa ke rumah.
Di tengah obrolan, Dedi melihat mata Diki tidak biasa. Rupanya Diki memakai bola mata palsu lantaran dulu pernah terlibat perkelahian dengan preman yang memalak uang hasil ngamen. “Waktu itu pulang ngamen dipalak terus ditodong. Mata saya ketusuk besi. Jadi sekarang pakai bola mata palsu,” ujar Diki.
Kang Dedi berharap peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Dia pun meminta Diki mencari pekerjaan lain agar anaknya bisa terdidik dengan baik. Sebab jika terus-terusan di jalan, Diki akan selalu pulang malam dan anak tak mendapat kasih sayang orang tua.
“Saya juga sudah sampai titik jenuh, Pak. Sudah pingin kerja. Saya punya keahlian bengkel, ngelas, nyablon. Pernah mau kerja tapi gak bisa, katanya ada tato di wajah. Demi si buah hati saya mah apa saja mau kerja,” tutur Diki.