Beberapa contoh gempa kerak dangkal yakni Gempa Cianjur 2022 (lebih dari 600 orang meninggal dunia), Gempa Yogyakarta 2006 (lebih dari 6.000 orang meninggal), Gempa Turki 2023 (lebih dari 17.000 orang meninggal), Gempa Sichuan China 2008 (lebih dari 70.000 orang meninggal).
“Gempa Sumedang memberi pelajaran akan pentingnya mitigasi konkrit dengan mewujudkan bangunan dengan struktur kuat dan Rencana Tata Ruang Wilayah yang aman, berbasis risiko gempa bumi,” katanya.
2. Gempa Sumedang terjadi di zona kegempaan rendah (low seismicity).
Daryono menjelaskan dalam peta seismisitas Jawa Barat, tampak Kota Sumedang tidak terdapat kluster seismisitas mencolok seperti lazimnya di jalur sesar aktif. Gempa Sumedang mirip Gempa Kalaotoa di Laut Flores M7,4 (2021), Gempa Talamau 2022, dan Gempa Probolinggo M4,1 (2022) yang juga terjadi di zona seismisitas rendah.
“Gempa Sumedang memberi pesan akan pentingnya mitigasi gempa bumi meski di wilayah dengan aktivitas kegempaan rendah,” kata Daryono.
3. Gempa Sumedang memiliki magnitudo kecil tetapi merusak
BMKG mencatat sejumlah gempa kerak dangkal dengan magnitudo kecil yang terbukti merusak seperti Gempa Madiun 4,2 (2015), Gempa Pangalengan 4,2 (2016), Gempa Garut 3,7 (2017), Gempa Banjarnegara 4,4 (2018), Gempa Lebak 4,4 (2018) dan Gempa Kuningan-Brebes 4,2 (2020).