Namun soal kepastian korban meninggal di stadion atau rumah sakit, yang dapat memastikan hanya dokter. "Kapan alhmarum meninggal, yang tahu itu dokter. Yang jelas kami dapatkan itu (korban) pingsan. Kami bawa ke ambulans dan ke RS Sartika Asih," tutur Kapolrestabes Bandung.
"Peristiwa itu (berdesak-desakan dan dua bobotoh meninggal) terjadi di luar yah, di depan pintu sobek karcis, bukan di dalam gedung (stadion). Jadi, dugaannya itu adalah (bobotoh) tidak sabar ingin masuk, terburu-buru. Padahal sudah diimbau agar antre dan batas antreannya juga ada. Kemudian diminta menunjukkan tiket baik dari telepon genggam maupun tiket karcis atau hard copynya. Kebanyakan dari penonton ingin buru-buru masuk, tapi melupakan keselamatan," ucap Kombes Pol Aswin.
Kedua korban, kata Kombes Pol Aswin Sipayung berada di kerumunan antre masuk ke stadion. Padahal, petugas telah mengimbau mereka agar tertib mengantre. "Polisi yang jaga di situ sudah mengimbau agar antre, tertib. Yang punya tiket menunjukkan tiketnya dan yang tidak punya agar mundur. Itu (imbauan agar tertiba) selalu disampaikan oleh petugas," ucap Kombes Pol Aswin.
Namun karena tidak sabar, akhirnya ribuan bobotoh menyerbu masuk. Padahal ukuran pintu Stadion GBLA terbatas sehingga tidak bisa semua bobotoh langsung masuk. Yang pasti, korban tidak mengalami luka serius.
"Korban di antara kerumunan itu. Pintunya kan terbatas. Jadi tidak bisa semua langsung masuk. Tidak ada luka-luka (di tubuh korban). Tidak ada benturan atau tawuran. Waktu menonton itu mereka gabung Bobotoh dan Bonek. Dugaan sementara korban (meninggal) akibat berdesakan," ujar Kapolrestabes.