Terkait penggunaan moda transportasi, sebagian besar pemudik memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Dari total pemudik dengan kendaraan pribadi, penggunaan sepeda motor tercatat cukup tinggi.
“Kalau kita lihat di sini, pemilihan moda, hampir 22 persen memilih menggunakan kendaraan pribadi. 20 persen menggunakan sepeda motor. Yang lainnya menggunakan angkutan umum seperti kereta api, bus, maupun kapal laut dan pesawat udara,” ujar Rudi.
Lebih jauh dijelaskannya, puncak arus mudik, awalnya diperkirakan terjadi pada tanggal 21 April atau H-1 Idul Fitri. Namun, seiring adanya kebijakan pemerintah terkait cuti bersama, diharapkan puncak arus mudik tidak terfokus pada satu hari itu saja.
“Sebelum adanya kebijakan cuti bersama digeser ke tanggal 19 dan 20, kami lihat bahwa puncak arus mudik itu akan (terjadi) H-1, tanggal 21 April, hari Jumat sebesar 18,7 juta orang,” kata dia.
“Namun setelah melihat hasil survei, dengan cuti lebih awal, tidak terjadi lagi puncak tunggal di tanggal 21. Jadi kami harapkan masyarakat sudah melakukan perjalanan lebih awal, sehingga tanggal 19 malam mungkin sudah ada yang melakukan perjalanan,” kata Rudi.
Hal serupa juga diharapkan terjadi pada arus balik. Jika melihat kalender, jelas dia, kemungkinan arus balik akan terbagi menjadi dua gelombang yakni pekan pertama dan ke dua Idul Fitri.
"Kami juga berusaha untuk menghindari puncak arus baliknya. Survei itu akan terjadi pada H+2, tanggal 25 April. Namun kami juga masih memprediksi bahwa minggu berikutnya itu masih akan terjadi puncak. Karena kita lihat tanggal 1 (Mei) itu masih libur nasional, yaitu Hari Buruh. Jadi ada dua perkiraan puncak balik yaitu minggu pertama di H+2 dan selanjutnya tanggal 30 April dan 1 Mei masih ada orang yang melakukan arus balik,” kata dia.