Aling-aling berarti energi positif dan baik untuk keharmonisan rumah. Rumah adat satu ini juga biasanya menjadi pembatas antara angkul-angkul dengan tempat ibadah.
Pada bangunan ini terdapat dinding pembatas berupa batur dengan tinggi kurang lebih 150 cm yang biasa disebut penyeker.
Aling-aling identik sebagai privasi pemilik rumah karena tamu yang datang harus menyamping ke kiri bila masuk rumah dan ke samping kanan bila keluar rumah.
Bangunan ini identik dengan rumah-rumah masyarakat Bali yang bentuknya seperti Candi Bentar dan letaknya berada di depan bangunan rumah yang berfungsi sebagai pintu masuk.
Angkul-angkul memiliki atap penghubung yang terbuat dari rumput kering. Namun, seiring berjalannya waktu kini sudah banyak yang menggantinya dengan genteng dan terdapat ukiran pada dindingnya.