"Bukan tujuan saya untuk membanggakan sifat anak kepada khalayak, karena semua orang memiliki kebaikan mereka sendiri-sendiri. Ini lebih merupakan inspirasi, dakwah dan contoh," ujarnya.
Ghazali mengatakan, anaknya juga tidak pernah melewatkan salat malam. Muammar rajin bangun di persetiga malam untuk menunaikan salat Tahajud, salat Hajat bahkan salat Taubat.
Selain itu, Muammar merupakan sosok yang penyayang kepada siapa saja. Bahkan, dia sering berteman dengan orang yang sering dianggap sebelah mata atau diremehkan. Hal ini sebagai bentuk dukungannya terhadap sesama manusia.
Ghazali juga menceritakan, sehari sebelum kepergian anaknya dia mendapatkan firasat bahwa ada yang janggal. Muammar minta diadakan acara ulang tahun walau tanggal lahirnya 7 Agustus.
"Dia mendesak kami agar dibuat lebih awal. Katanya dia tidak sempat kalau acara tersebut dibuat pas hari ulang tahunnya. Pada malam itu, dia bilang kue itu yang terakhir dia makan, setelah ini tidak dapat makan lagi," ucapnya.
Kemudian keesokan harinya, Muammar mengalami kecelakaan. Padahal saat itu ia hendak pergi menjadi guru ngaji.
"Motor yang dinaikinya bertabrakan dengan sebuah kendaraan, hingga menyebabkan bahunya patah dan kepala luka parah," katanya.