Serambi belakang atau yang biasa disebut sebagai seurameo likot merupakan tempat santai bagi keluarga dan berfungsi sebagai dapur.
Ciri khas lainnya rumah Krong Bade, jumlah tangga menuju ruang tamu berjumlah ganjil. Jumlah ini menandakan masyarakatnya religius yang selama ini Aceh diketahui sebagai pintuk masuk penyebaran Islam di Indonesia.
Rumah Krong Bade meski tidak menggunakan paku dan terbuat dari kayu namun bisa bertahan hingga ratusan tahun. Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat.
Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Kakbah yang berada di Mekkah. Pada bagian depan rumah terdapat gentong air yang berfungsi untuk membasuh kaki sebelum memasuki rumah.
Rumah adat Aceh juga memiliki perbedaan, jika pemiliknya orang yang berkecukupan, ukiran atau ornamennya akan memiliki bentuk lebih rumit. Sedangkan jika pemilik rumah merupakan orang biasa, rumah Krong Bade cukup dibuat tanpa ukiran atau ornamen.