Tenun songket merupakan salah satu jenis kain tradisional Indonesia yang terkenal dengan keindahannya. Coraknya beragam dan elegan. Untuk menghasilkan sehelain kain songket yang indah, membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Di Indonesia, kain yang dikenal dengan kemewahannya ini tidak bisa dilepaskan dari Palembang dan Melayu. Namun, ternyata songket juga ditemukan di Aceh dan hingga kini masih terus dilestarikan. Di Serambi Mekkah ini, tidak banyak perajin memiliki keahlian menenun songket.
Sama halnya seperti songket Palembang dan Melayu, songket Aceh juga memiliki beragam motif. Setiap motif menggambarkan falsafah hidup masyarakat di Aceh. Karena kesakralan nilainya, peminat terhadap kain songket ini cukup banyak.
Adalah Dahlia, generasi kedua dari keluarga Maryamu Mualih atau biasa dipanggil Nyak Muh, yang masih tetap melestarikan menenun songket Aceh. Di umurnya yang tidak lagi muda, yaitu 57 tahun, dia sangat cekatan menenun songket Aceh. Semangatnya terlihat tidak pudar.
Dahlia menjelaskan, sejarah songket Aceh berawal dari tahun 1971. Pihak dari Departemen Perindustrian mendatangi kampung-kampung sekitar Aceh Besar untuk mencari para warga yang bisa menenun songket dengan motif khas Aceh. Saat itu, mereka bertemu dengan sosok Nyak Muh, ibunya.