Kemudian pada 19 Agustus 2024, masalah kembali mencuat ketika kepala sekolah memberitahu korban ada seorang yang mengaku wartawan yakni pelaku berinisial SF masih mempermasalahkan video tersebut. Pelaku meminta korban untuk membuat video klarifikasi.
Saat pertemuan untuk klarifikasi, pelaku SF mulai mengungkit masalah pribadi korban di masa lalu. Saat itu SF mengarahkan korban untuk meminta maaf kepada kawannya berinisial AN yang mengaku sebagai ahli IT melalui telepon.
Semenjak itu AN mulai mengancam korban dengan klaim dia memiliki video aib masa lalunya. Dia mengancam akan menyebarkan rekaman tersebut ke Dinas Pendidikan hingga ke Bupati Aceh Selatan berujung mutasi hingga pemecatan jika korban tidak mengikuti keinginannya.
Di bawah tekanan dan ancaman, korban dipaksa AN untuk berpacaran dengan SF dan mengirimkan video tidak senonoh mereka.
Kemudian pada 20 Agustus, korban bertemu dengan SF di salah satu kafe di Kecamatan Samadua pukul 17.00 WIB. Namun saat itu pelaku SF tidak mau duduk bersama dengan alasan banyak orang yang dikenalnya.