Wawasan mengenai transportasi ini membuatnya melihat banyak peluang bisnis selain menjadi PNS. Dia mengawali usaha melalui angkutan truk.
"Karena awalnya kan Bengkulu tahun 1968 pecahan dari Provinsi Sumatera Selatan. Provinsi ini berawal dari karesidenan. Tahun 1969-70 saya tamat SMA sudah bergabung ke PNS pemprov, tugas saya banyak di kendaraan," katanya
Hasanuddin mengungkapkan, saat usahanya berkembang dirinya memutuskan keluar dari PNS. "Waktu itu saya minta berhenti. Namun atasan saya menolak. Bahkan, surat pengunduran diri saya dirobek-robek. Atasan saya bilang putra daerah dibutuhkan," ujarnya.
Dia menjelaskan tidak semua putra daerah harus menjadi PNS. Daerah ini membutuhkan alat transportasi yang baik, sehingga memilih meneruskan usaha yang berkembang.
Dalam filosofi bisnisnya, Hasanuddin menekankan kualitas layanan. Bukan pada seberapa banyak mobil dimiliki. "Saat ini umur saya sudah 70 tahunan lebih. SAN tak perlu ribuan bus. Yang penting bus bisa beroperasi dengan pelayanan terbaik, sehingga perusahaan sehat," katanya.