Tak hanya itu, setiap pakaian kerja yang sudah tidak digunakan nantinya akan didaur ulang. Hasil daur ulang tersebut akan dimanfaatkan kembali menjadi produk baru, sejalan dengan strategi circular economy yang mulai diterapkan di industri otomotif.
Sejumlah foto yang dirilis perusahaan memperlihatkan para pekerja mengenakan seragam baru tersebut di area pabrik. Meski tampak berpose dengan senyum, suasana ini mencerminkan fase transisi penting Bentley menuju produksi kendaraan listrik secara penuh.
SUV listrik Barnato sendiri menjadi model krusial bagi masa depan Bentley. Peluncurannya terjadi di tengah dinamika pasar global, di mana penjualan EV mengalami penurunan di Amerika Serikat, tetapi justru meningkat di Eropa.
Respons pasar terhadap SUV listrik mewah ini pun masih menjadi tanda tanya. Namun, kesuksesan Rolls-Royce Spectre yang kini menjadi salah satu model terlaris setelah Rolls-Royce Cullinan menunjukkan potensi besar di segmen kendaraan listrik premium.
Dari sisi teknis, Barnato akan dibangun menggunakan platform Premium Platform Electric (PPE). Platform ini juga digunakan oleh sejumlah model lain seperti Audi A6 e-tron, Audi Q6 e-tron, Porsche Macan Electric, serta Porsche Cayenne Electric.
Kombinasi teknologi canggih, pendekatan ramah lingkungan, serta transformasi produksi yang inovatif, Bentley menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi masa depan otomotif yang semakin mengarah ke elektrifikasi.