Kekhawatiran Salah Deteksi
Meski bantahan sudah disampaikan, kekhawatiran paling nyata justru berkaitan dengan potensi kesalahan sistem atau false positive. Jika teknologi salah mendeteksi kondisi pengemudi, kendaraan bisa menolak menyala atau berhenti beroperasi di saat krusial.
Bayangkan seorang pengemudi sadar hendak berangkat kerja, menjemput anak, atau bahkan melarikan diri dari situasi berbahaya. Jika algoritma membaca data secara keliru, mobil dapat menolak bergerak karena sistem menganggap pengemudi mengalami gangguan.
Anggota DPR AS, Thomas Massie, memberi ilustrasi ekstrem. Dia mencontohkan skenario seseorang yang membanting setir untuk menghindari hewan liar saat badai salju, lalu sistem justru menganggap manuver tersebut sebagai indikasi mabuk dan mematikan kendaraan.
Walau terdengar tidak lazim, perdebatan itu mencerminkan kekhawatiran tentang ketergantungan penuh pada algoritma. Dalam skala besar, kesalahan kecil bisa berdampak luas. Jika satu dari 10.000 pengemudi per hari mengalami salah deteksi, jumlahnya tetap signifikan di seluruh negeri.
Potensi Celah dan Masa Tunggu Regulasi
Di sisi lain, para pengkritik juga menyoroti kemungkinan sistem ini dapat diakali. Sejarah menunjukkan bahwa pengemudi mabuk yang berniat tetap berkendara kerap menemukan celah, mulai dari memanipulasi perangkat hingga menggunakan kendaraan lain yang tidak dilengkapi sistem serupa.
Perdebatan kini bergeser pada bagaimana regulator akan merumuskan standar final. NHTSA masih menyusun laporan yang nantinya diserahkan kepada Kongres AS.
Laporan tersebut diperkirakan baru rampung pada 2027. Artinya, kendaraan baru yang dipasarkan dalam beberapa tahun ke depan kemungkinan besar belum akan dilengkapi teknologi deteksi gangguan tersebut.
Perjalanan kebijakan ini masih panjang. Di satu sisi, pemerintah ingin menekan angka kecelakaan akibat pengemudi mabuk. Di sisi lain, publik menuntut jaminan agar teknologi keselamatan tidak justru menciptakan risiko baru bagi pengemudi yang patuh aturan.