Tiba di Jakarta berada di tempat pembuangan sampah umum kawasan Menceng, Cengkareng. Seminggu tinggal di sana bingung. Temen satunya pergi, sehingga tinggal berdua.
"Duit Rp60 masih bisa buat makan. ternyata habis, mau ke mana. Sempat menjadi geladangan seminggu. Akhirnya menjadi pemulung pakai gerobak cari barang rongsokan," kata Hardy.
"Gerobak kita sewa dari bos rongsokan Rp5.000 per hari. Dapetnya paling cuma Rp6.000 sampai Rp15.000. Yang penting bisa buat makan," ujar Hardy mengenang perjuangannya.
Dia mengatakan saat itu dirinya berputar-putar mencari makanan, bingung apa yang harus dikerjakan. Di situlah Hardy belajar tentang kehidupan. "Sepeser dua peser susah sekali. Hampir dua mingguan,"katanya.
Selanjutnya, Hardy ikut orang bekerja di proyek bangunan rumah selama hampir setahun. Dia jadi kenek tukang, ngaduk semen dengan bayaran Rp15.000 sampai Rp20.000 per hari. "Kelasnya sudah beda, saat itu sudah bisa beli rokok dan makan," katanya.