"Kalau dari sisi chargernya sudah siap. Jadi sepanjang yang mau menerimanya ini sudah siap bisa diisi cepat," ujar Riza.
"Jadi gini, supaya kendaraan itu bisa diisi cepat, pertama dari sisi baterainya seberapa bisa dia menerima arus besar. Kalau dari sisi chargernya itu tinggal ditingkatkan kapasitasnya. Lebih mudah memang dari sisi charger," katanya.
Riza menjelaskan untuk motor listrik yang menggunakan baterai Lithium-ion sebagian besar baru bisa diisi dengan daya sebesar 5 Ah. Ini agar kualitasnya tidak tergangggu. Sementara port charger yang diciptakan BRIN sudah bisa mengisi daya hingga 10 Ah, dan dengan baterai yang sudah dikembangkan, maka pengisiannya bisa lebih cepat.
"Kalau untuk mobil ada dua tren bisa mengisi cepat, pertama dengan arsitektur 800 Volt. Sebelumnya itu 400 Volt sekarang naik ke 800 Volt, dan ke depan bisa naik 1.200 atau 1.500 Volt. Kalau dari sisi chargernya dayanya makin lama makin naik, alat yang kami miliki sebesar 22 kWh, tapi ada juga yang 50, 150, hingga 480 kWh," ujarnya.
Stasiun pengisian cepat yang dikembangkan BRIN bisa mengisi baterai selama empat jam dari 30 persen hingga 80 persen. Tapi, dari 80 persen ke 100 persen dayanya akan normal, bahkan bisa lebih lama pengisiannya untuk menjaga kondisi baterai.