3. Membutuhkan Kerja Sama Dunia
Alasan ketiga adalah perlunya koordinasi internasional dalam pengawasan, pencegahan, dan penanganan wabah. WHO menilai pengendalian Ebola tidak bisa dilakukan satu negara saja karena mobilitas manusia antarnegara berpotensi mempercepat penyebaran virus.
“Karena pola penularannya, maka memang perlu kerja sama dan koordinasi internasional dalam surveilans, pencegahan, dan respons,” jelas Prof Tjandra.
Lebih lanjut, Prof Tjandra menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis utama Ebola, yakni Ebola virus Zaire, Sudan virus, dan Bundibugyo virus yang kini menjadi perhatian dunia.
Namun berbeda dari jenis lainnya, Ebola akibat Bundibugyo virus sampai saat ini belum memiliki vaksin ataupun obat yang mendapat persetujuan WHO. Hal inilah yang membuat ancaman wabah menjadi semakin serius.
Tak hanya itu, Ebola dikenal memiliki tingkat kematian sangat tinggi, yakni berkisar antara 25 hingga 90 persen. Selama ini, kasus Ebola paling banyak ditemukan di kawasan Afrika, sementara Asia belum pernah melaporkan kasus penyakit tersebut.
Meski demikian, status darurat global dari WHO menjadi peringatan penting bagi seluruh negara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit mematikan tersebut.