Kejadian bermula ketika pasangan suami istri dan anaknya mendaftarkan diri di Basecamp (BC) Perantunan, Bandungan, untuk melakukan pendakian tektok atau pendakian yang berarti naik dan turun dalam satu hari tanpa bermalam.
Petugas basecamp yang dipimpin oleh pengelola bernama Wido langsung memberikan peringatan keras kepada keduanya mengingat kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Namun peringatan tersebut tidak menyurutkan tekad keduanya. Mereka menyatakan sanggup menanggung risiko dan menjamin keselamatan sang bayi. Atas pernyataan kesanggupan itu, petugas akhirnya mengizinkan mereka mendaki.
Masalah mulai muncul ketika rombongan kecil ini tiba di Pos 4 Pendakian Jalur Perantunan. Alih-alih kekompakan, pasangan suami-istri tersebut justru terlibat perselisihan.
Sang suami bersikeras ingin melanjutkan pendakian hingga ke puncak, sementara sang istri meminta untuk segera turun kembali ke basecamp. Di tengah perdebatan orang tuanya, sang bayi mulai rewel dan menangis terus-menerus.