Pada tahun 1775, kerajaan Mataram pecah menjadi kesultanan Yogyakarta dan kesultanan Surakarta, perpecahan ini pun membuat tari serimpi ini menjadi beberapa golongan. Tari Serimpi di Yogyakarta digolongkan menjadi Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel, Serimpi Genjung.
Sedangkan di Kesultanan Surakarta digolongkan menjadi Serimpi Anglir Mendung dan Serimpi Bondan. Tema yang ditampilkan pada tari ini biasanya menggambarkan pertikaian antar dua hal yang bertentangan, yaitu antara baik dan buruk, antara benar dan salah, antara akal dan nafsu manusia.
Saat ini, properti para penari sudah mengalami perkembangan. Semula, para penari hanya menggunakan pakaian temanten putri kraton dengan dodotan, serta gelung bokornya sebagi motif hiasan kepala.
Saat ini, mereka menggunakan kain seredan, baju tanpa lengan, dengan hiasan kepala khusus yang berjumpai bulu burung kasuari. Tak lupa, ada gelung berhiaskan bunga ceplok dan jebehan.
Ciri-ciri penari tari serimpi berasal dari Jawa adalah digunakannya keris yang diselipkan secara silang ke kiri, Penggunaan keris ini yang menceritakan falsafah hidup ketimuran dengan peperangan yang tak kunjung habis antara kebaikan dan kejahatan.
Gerakan tari serimpi menggambarkan sikap wanita Jawa sebenarnya yang wajib bertutur kata halus, serta lembut dalam perilakunya. Namun, masing-masing tarian ini memiliki makna dan ceritanya masing masing.
Contohnya, kesan tari serimpi Sangupati yang menceritakan tentang seorang raja yang diminta untuk meneruskan tahta kerajaan. Sementara itu, pola lantai tari serimpi adalah berdiri sejajar (horizontal) dan tidak merubah tempat yang menggambarkan bagaimana wanita Jawa lemah gemulai.