Gerakan tangan yang lambat dan gemulai merupakan ciri khas tarian ini. Empat penari dalam Tari Serimpi mendapat sebutan air, api, angin dan bumi.
Tari Bambang Cakil diadopsi dari salah satu adegan yang ada dalam pementasan wayang kulit. Dalam tari ini menceritakan ksatria yang melawan raksasa.
Ksatria adalah tokoh yang bersifat halus dan lemah lembut, sedangkan Raksasa menggambarkan tokoh yang kasar dan beringas. Makna yang terkandung dalam tarian ini adalah bahwa segala bentuk kejahatan pasti kalah dengan kebaikan.
Tari dari Jawa Tengah selanjutnya adalah Bedhaya. Tari ini mengalami masa kejayaan pada abad ke-18 pada masa kekuasaan Pakubuwono II, III, dan VIII.
Tari ini dimainkan oleh sembilan penari dengan menggunakan tata busana dan rias wajah yang sama. Masing-masing penari membawakan peran dengan nama yang berbeda-beda, yaitu Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, Bancit.