Selain itu, Mbah Wahab juga turut mendirikan NU. Langkah ini dilakukan lantaran ada perubahan cara berpikir keagamaan. Dia mengatakan, saat itu muncul cara berpikir yang sangat tekstualis.
"Kalau menurut Imam Al-Farabi itu cara berpikir Al-Jumud alal Manqulat, yaitu statis pada teks-teks saja. Gerakan kembali ke Quran dan Hadis dan menghilangkan pendapat-pendapat bermadzhab ya. Ini muncul di Saudi, di Timur Tengah, yaitu tekstualisme," katanya.
Selain itu, mantan Rais Aam PBNU ini menyebut, saat itu juga muncul paham liberalisme.
"Nah, untuk menjaga inilah lahirnya NU dalam rangka menjaga kemurnian paham Ahlussunnah wal Jamaah. Himayatul Ummah anil Afkar al-Munharifah, dari cara berpikir yang menyimpang, apakah itu terlalu ke kiri (tekstualisme) ataupun terlalu ke kanan (liberalisme)," ucap Ma'ruf.
Ma'ruf mengatakan, lahirnya organisasi dan gerakan yang diinisiasi Mbah Wahab ini merupakan gagasan besar. Menurutnya, gagasan ini bisa menjadi bekal untuk menyiasati sejumlah tantangan yang dihadapi di masa depan.
"Nah, 100 tahun ke depan, kalau kita melihat keadaan sekarang, tentu tidak lebih mudah, justru lebih gampang dari yang dulu. Sekarang ini tentu lebih kompleks. Oleh karena itu, dalam menghadapi 100 tahun kedua Nahdlatul Ulama, saya kira pola pikir yang dikembangkan oleh Hadratussyaikh Kiai Wahab Hasbullah ini, ini bisa menjadi rujukan kita," kata Ma'ruf.