JAKARTA, iNews.id - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto sekaligus terdakwa kasus suap dan perintangan penyidikan membacakan nota pembelaan alias pleidoi pada, Kamis (10/7/2025). Suara Hasto sempat lirih dan bergetar saat membacakan pleidoi itu.
Hal itu terjadi pada saat dirinya bercerita berkaitan dengan sejarah PDIP hingga kemenangan tiga kali beruntun di Pemilu. Hasto menceritakan, PDIP merupakan partai yang selalu bergerak demi kepentingan rakyat.
"Apa pun risikonya, partai terus memimpin pergerakan rakyat. Partai digerakkan oleh ide dan cita-cita bagi kemerdekaan agar keadilan dan kemakmuran rakyat dapat diwujudkan. Di dalam PDI Perjuangan selalu menyala dengan jiwa perjuangan," kata Hasto saat membacakan pleidoi di PN Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2025).
"Dalam sejarahnya pula ketika rezim otoriter berkuasa selama 32 tahun lamanya, PDI berperan penting sebagai suluh demokrasi. PDI Perjuangan menjadi harapan rakyat tertindas dan wahana bagi suara-suara kritis," tuturnya.
Dia juga menceritakan momen PDIP sempat coba dihancurkan oleh dualisme dan campur tangan kekuasaan. Dia menyinggung momen Kudatuli atau peristiwa 27 Juli 1996.