“Toleransi tidak cukup hanya menjadi slogan. Toleransi harus lahir dari rasa cinta sehingga tidak ada kebencian terhadap perbedaan. Jika toleransi dasarnya cinta maka itu bukan saja sekedar narasi atau kisah cinta yang penuh suka-duka bahkan berakhir bahagia. Cinta akan kebahagiaan di atas perbedaan keyakinan untuk bergandengan tangan,” ujarnya.
Bhante menilai suasana seminar yang menghadirkan tokoh lintas agama di satu panggung menjadi simbol nyata bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.
“Kita bisa bersama tanpa saling iri dan saling menjatuhkan karena kita dipersatukan oleh cinta,” ujarnya.
Pada sesi berikutnya, Assoc. Prof. Dr. Yan Mitha Dhaksana menyampaikan agama Hindu mengajarkan manusia untuk hidup bermanfaat bagi sesama. Dia mengibaratkan manusia seperti sungai yang mengalir dan pohon yang tumbuh untuk memberi kehidupan kepada makhluk lain.
“Perbedaan harus diterima sebagai bagian dari kehidupan. Esensi manusia adalah memberikan manfaat bagi yang lain,” katanya.
Yan juga menyoroti keberagaman di lingkungan Universitas Pamulang yang dinilai sangat inklusif, tidak hanya dalam keberagaman agama tetapi juga keterbukaan terhadap mahasiswa dan dosen penyandang disabilitas.