Bagian pidatonya yang juga menggerakkan semangat rakyat Surabaya adalah pekikan Takbir tiga kali, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!!”
Pria kelahiran Surabaya itu merupakan jurnalis di Harian Soeara Oemoem Surabaya, bekerja di salah satu kantor berita Jepang bernama Domei, menjabat Kepala Bagian Penerangan Pemuda Republik Indonesia (PRI), lalu jurnalis di kantor berita Antara.
Perang Pertama sejak Proklamasi Kemerdekaan
Perang 10 November 1945 merupakan perang pertama yang terjadi setelah kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi pada 17 Agustus.
Selama perang 3 pekan, jumlah korban gugur dari Indonesia mencapai 6.000 hingga 16.000 orang serta 200.000 warga sipil mengungsi. Sementara dari pihak sekutu 2.000 pasukan tewas.
Julukan Kota Pahlawan
Karena pertumpahan darah yang begitu masif, Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan. Julukan ini diberikan bukan saja karena banyak pejuang yang gugur dalam mengusir penjajah, tapi Surabaya menjadi saksi bisu tekad kuat mereka dalam membebaskan Indonesia dari kolonialisme. Bahkan dengan persenjataan seadanya mereka maju menghadapi desingan peluru.
Pemerintah Indonesia menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Tujuannya agar semua generasi selalu mengenang jasa para pejuang yang gugur.