Melansir laman PPK Kemayoran, Bandara Kemayoran juga menjadi lokasi diselenggarakannya airshow atau pameran kedirgantaraan pertama pada 31 Agustus 1940. Peristiwa tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun ratu Belanda, Ratu Wilhelmina. Beragam pesawat koleksi KNILM dipamerkan dalam acara ini. Selain itu, pesawat-pesawat pribadi dari Aeroclub yang ada di Batavia juga turut dipajang dan meramaikan acara.
Kejayaan Bandara Kemayoran di tangan pemerintah kolonial memang tak berlangsung lama. Saat Jepang masuk dan melengserkan Belanda, Bandara Kemayoran menjadi wilayah kekuasaan tentara Jepang. Pada 9 Februari 1942, 2 unit pesawat DC-5, 2 pesawat Brewster, dan 1 pesawat F-VII terkena sasaran tembak saat perang Asia Pasifik, sehingga harus diboyong ke Australia. Pesawat-pesawat tempur milik Jepang mendominasi bandara tersebut kala pendudukannya. Beberapa pesawat yang sering terlihat adalah Navy Zero atau Mitsubishi A6M2.
Namun ketika Jepang kalah dan menyerah pada tahun 1945, giliran pihak sekutu yang memarkirkan pesawat tempurnya di Bandara Kemayoran. Sebut saja B-25 Mitchell, P-51 Mustang, Supermarine Spitfire, DC-6, Boeing 377 Stratocruiser, DC-4/C-54 Skymaster, dan Lockheed Constelation ada di sana.
Pada era kemerdekaan, Garuda Indonesia Airways juga hadir di bandara ini. Maskapai berpelat merah itu ikut meramaikan penerbangan sipil mulai tahun 1950-an.
Sayangnya, pemerintah memutuskan untuk menutup Bandara Kemayoran dan resmi terakhir beroperasi pada 31 Maret 1985. Keputusan itu diambil lantaran posisi Bandara Kemayoran juga berada di sekitar permukiman penduduk, jumlah penerbangan yang terus meningkat, dan jaraknya yang dekat dengan Bandara Halim Perdanakusuma. Sejak itu, aktivitas penerbangan dialihkan ke Bandara Soekarno-Hatta.