JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan perdagangan pekan depan. Hal ini seiring penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak mentah dunia, serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assu’aibi mengatakan, rupiah berpotensi melemah hingga ke level Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS jika sentimen eksternal terus memburuk.
Dia menyebut, penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Diprediksi indeks dolar masih bergerak menguat pada pekan depan dengan rentang support di level 97,300 dan resistance di 101,100.
"Rupiah kemungkinan besar dalam perdagangan minggu depan masih akan terus mengalami pelemahan. Bisa saja di level Rp17.800-an bahkan Rp17.850 per dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga diperkirakan memperbesar tekanan terhadap rupiah karena meningkatkan kebutuhan impor energi dan permintaan dolar AS di pasar domestik.