Sri Mulyani Indrawati lahir pada 26 Agustus 1962 di Bandar Lampung. Ia menempuh pendidikan S1 Ekonomi di Universitas Indonesia (UI), lulus pada tahun 1986. Setelah itu, ia melanjutkan studi di University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat, dengan meraih gelar Master of Science (1990) dan gelar Ph.D di bidang ekonomi (1992). Keduanya diketahui sama-sama pernah belajar di SMA Negeri III Semarang, Jawa Tengah.
Sri Mulyani dikenal luas sebagai ekonom dengan reputasi internasional. Ia sempat menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia pada 2010–2016 sebelum kembali ke Indonesia untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan di kabinet Presiden Jokowi.
Selama menjabat, ia sering menekankan pentingnya tata kelola keuangan negara yang transparan, efisien, dan pro-pembangunan. Namun, pada 8 September 2025, Sri Mulyani resmi digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Jika dibandingkan, riwayat pendidikan Retno Marsudi vs Sri Mulyani menunjukkan jalur akademik yang berbeda sesuai bidang keahlian mereka. Retno menekuni hubungan internasional dan diplomasi, sedangkan Sri Mulyani menempuh jalur ekonomi dan keuangan. Perbedaan ini justru memperlihatkan kekayaan talenta perempuan Indonesia yang mampu berkontribusi di berbagai sektor strategis.
Retno dengan latar belakang diplomasi berhasil memperkuat hubungan internasional Indonesia, baik bilateral maupun multilateral. Sementara Sri Mulyani dengan keahliannya di bidang ekonomi berhasil meningkatkan kredibilitas fiskal Indonesia dan menjaga stabilitas keuangan negara, bahkan di tengah krisis global.
Keduanya sama-sama mendapat kepercayaan tinggi dari presiden yang berbeda untuk memimpin kementerian vital. Hal ini menjadi bukti bahwa prestasi mereka di bidang akademik dan profesional diakui secara luas, baik di dalam negeri maupun internasional.
Riwayat pendidikan Retno Marsudi vs Sri Mulyani memberikan gambaran bagaimana dua tokoh perempuan Indonesia menempuh jalur akademik yang berbeda tetapi sama-sama berakhir pada posisi penting dalam pemerintahan. Retno dengan bekal hubungan internasional berhasil mengangkat diplomasi Indonesia, sedangkan Sri Mulyani dengan latar belakang ekonomi memperkuat posisi fiskal negara.