Hal lain yang juga menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan ini adalah terkait ekspor listrik. Bahlil menawarkan ekspor listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sejalan dengan program kelistrikan 100 gigawatt (GW) yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan domestik dan juga dapat diekspor ke negara tetangga.
Namun, terdapat tantangan dari segi harga energi hijau lebih mahal daripada harga energi fosil.
Senada dengan hal tersebut, Tan See Leng menyambut baik progres teknis terkait kerja sama ini.
“Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik,” ujar Tan See Leng.
Menutup pertemuan, kedua menteri sepakat sinergi ini adalah pembuktian kepemimpinan energi di ASEAN. Dengan dukungan teknis dan investasi dari Singapura serta sumber daya melimpah dari Indonesia, visi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau kini berada di jalur yang tepat.
Implementasi nyata melalui pilot project di kawasan BBK diharapkan dapat segera dimulai dalam waktu dekat sebagai bukti konkret dari tiga MoU yang telah ditandatangani sebelumnya.