Ramai Fenomena Rojali di Mal, Pengamat Singgung Tekanan Ekonomi Kelas Menengah

Anggie Ariesta
Pengunjung memadati mal. (Foto: iNews.id)

"Pusat perbelanjaan lah yang harus melakukan penyesuaian dengan menggeser yang tadinya banyak menyediakan gerai baju, gerai-gerai yang terkait dengan kebutuhan sekunder. Sekarang banyak yang bergeser menjadi pusat F&B, pusat makanan minuman, kemudian rekreasi keluarga. Itu yang sekarang diminati," jelas Bhima.

Dia menambahkan mal-mal lama yang berhasil mengubah konsep ini mampu bertahan dengan tetap menopang pendapatan dari pengeluaran konsumen untuk rekreasi. Bhima memperkirakan fenomena ini akan berlanjut hingga tahun depan, sejalan dengan adanya perang dagang yang dapat memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor padat karya.

"Kemudian juga daya beli masyarakat yang memang sedang lesu. Ini akan membuat situasinya terjadi," katanya.

Dia menyebutkan faktor lain yang turut berkontribusi adalah efisiensi belanja pemerintah, yang secara tidak langsung ikut mengurangi dompet kelas menengah.

"Sehingga mereka berpikir ulang untuk melakukan belanja barang-barang di luar barang-barang yang esensial," tutup Bhima.

Editor : Rizky Agustian
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Viral Mal Legendaris Kota Cirebon Akan Tutup Operasi

57 tahun lalu

Adu Cita Rasa, Masakan Padang Bersaing dengan Kuliner Modern di Mal

57 tahun lalu

10 Mal Terbesar di Dunia, 4 di Antaranya Berada di Asia Tenggara

57 tahun lalu

Jelajah Heritage Hong Kong: Wisata Penjara hingga Pasar Basah yang Jadi Mal Megah 

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal