Namun, ia menilai kebijakan intervensi tersebut terbukti efektif meredam kepanikan pasar, tecermin dari pergerakan yield SBN dengan tenor acuan 10 tahun yang mampu bertahan stabil di kisaran 6,7 persen.
"Nggak apa-apa biar Anda tahu saya intervensi sedikit. Terus (yield) 10 tahun relatif stabil," ujar Purbaya.
Operasi pasar ini bergulir di tengah kondisi mata uang Garuda yang kian terpuruk menghadapi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan siang ini.
Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) pagi, nilai tukar rupiah terpantau bergerak semakin liar menjauhi ambang batas tersebut.
Adapun rupiah langsung dibuka lesu dengan pelemahan 0,11 persen ke kisaran Rp17.960 per dolar AS. Mata uang domestik terjerembap melewati batas psikologis baru di level Rp18.015 per dolar AS, atau terdepresiasi 0,42 persen.
Kemudian pada Pukul 11.30 WIB, pelemahan menembus posisi Rp18.040 per dolar AS. Dengan bertengger di level Rp18.040 per dolar AS, nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor sejarah baru sebagai posisi terlemah sepanjang masa.
Kejatuhan beruntun ini sekaligus memperpanjang tren koreksi tajam dari sesi perdagangan hari sebelumnya, Rabu (3/6/2026), di mana kala itu rupiah ditutup merosot 0,62 persen ke level Rp17.940 per dolar AS.