"Kalau kami lihat tahun 2008 itu harga (bahan baku plastik) bisa sampai 2.100 dolar AS per metric ton, tapi tiba-tiba besok turun jadi 1.200. Sehingga yang pegang stok rugi banyak dan banyak yang tutup, itu yang yang dihindari sekarang karena ketidakpastian ini enggak tahu berubahnya kapan, karena waktunya tidak ada yang bisa memprediksikan dan itu di luar kontrol kita," tuturnya.
Dia menyebut, perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang masih meruncing mengakibatkan tersendatnya distribusi rantai pasok produksi plastik dari Timur Tengah seiring penutupan Selat Hormuz. Pelaku industri plastik lantas bertahan melakukan produksi berdasar bahan baku tersisa secara terbatas.
"Karena memang barangnya (bahan baku plastik) yang ada terbatas karena itu kami antisipasi jangan sampai 50 hari ke depan tuh habis di tengah jalan," ucapnya.
Fajar menyebut, produsen kemasan plastik saat ini melakukan penyesuaian produksi, baik mencari sumber alternatif bahan baku hingga mengatur ulang ukuran plastik.
Dia menuturkan, produsen bisa menaikkan kandungan daur ulang dengan material virgin sebagai upaya inovasi produksi. Pencampuran material ini digadang-gadang bisa menurunkan biaya produksi, selain sebagai alternatif pembuatan plastik.
Produsen tidak menafikan adanya kenaikan harga di pasaran selepas Idulfitri dalam kisaran yang tidak sedikit.
"Yang jelas memang nanti harga akan ada di keseimbangan baru, enggak mungkin harga kembali lagi seperti sebelum krisis perang ini," ucapnya.