Prabowo menyebut, sepanjang 2017 hingga 2024, Indonesia secara kumulatif mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 34,9 persen, atau rata-rata sekitar 5 persen per tahun.
Namun, jumlah penduduk miskin dan rentan miskin justru meningkat dari 46,1 juta orang menjadi 49,5 juta orang selama periode tersebut. Pada saat yang sama, jumlah penduduk kelas menengah juga menyusut dari 22,1 juta menjadi 17,4 juta orang.
"Selama tujuh tahun kali 5 persen, harusnya kita tambah kaya 35 persen. Tapi apa yang terjadi? Sekali lagi, saya mengajak kita jujur kepada diri kita sendiri dan kepada rakyat kita, ini mungkin menyakitkan bagi kita," ujarnya.
"Saya merasa setelah saya terima data-data ini, beberapa minggu setelah saya jadi presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya," tuturnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, Prabowo menilai tata kelola perekonomian sebelumnya mungkin belum sepenuhnya mengarah pada pemerataan kesejahteraan.
Karena itu, Prabowo menegaskan pemerintah akan terus menjalankan program-program yang bertujuan meningkatkan kemakmuran masyarakat secara lebih merata.
"Kalau kita teruskan sistem seperti ini untuk sekian tahun lagi, saya yakin bahwa tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur. Tanpa kemakmuran, kita tidak mungkin bisa menjaga kedaulatan kita," kata Prabowo.