Dia tak memerinci dua isu tersebut, namun menjelaskan perundingan berfokus pada Selat Hormuz, isu nuklir, ganti rugi, pencabutan sanksi, serta penyelesaian akhir konflik di kawasan.
Menurut Baghaei, keberhasilan perundingan bergantung pada keseriusan niat AS, penolakan terhadap maksimalisme, serta pengakuan terhadap hak-hak Iran.
Dia menambahkan perundingan AS-Iran digelar dalam suasana ketidakpercayaan. Menurut Baghaei, tidak ada satu pihak pun yang yakin kesepakatan tercapai dalam semalam.
Perundingan AS-Iran berlangsung selama 21 jam. Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran oleh ketua parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf.
"Pembicaraan ini diadakan dalam suasana ketidakpercayaan dan kecurigaan. Tentu saja, sejak awal, kita seharusnya tidak mengharapkan kesepakatan tercapai dalam semalam. Tidak ada yang punya harapan seperti itu," kata Baghaei.