"Sementara itu di Indonesia, 60 persen pekerja masih pekerja informal. Artinya mereka rentan tergeser, sementara itu lebih dari separuh pengeluaran hidup habis untuk kebutuhan pokok, sementara itu biaya pendidikan lebih cepat naik daripada pendapatan dan 130 juta calon kelas menengah terancam untuk turun kelas, serta generasi muda khawatir skill mereka akan kadaluarsa sebelum mereka mulai berkarir," ucapnya.
Angela mengatakan, di tengah tantangan tersebut, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Pemerintah berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen hingga menurunkan angka pengangguran terbuka sekitar 4,7 persen. Di sisi lain, Indonesia memiliki ekonomi digital yang terbesar di Asia Tenggara.
"Nah, Bapak Presiden Prabowo dan juga Bapak Wakil Presiden Gibran telah memberikan arah besar pembangunan bangsa. Dan dari arah menjadi sebuah kehadiran nyata yang bisa dirasakan oleh masyarakat, tentu membutuhkan eksekusi dan kerja keras dari semua pihak," tuturnya.
Meski demikian, Angela menyerukan para kader untuk kerja keras membantu rakyat. Dia meminta para kader bisa berjuang tanpa harus menunggu jabatan.
"Kita wajib kerja keras. Untuk apa? Untuk memastikan arah tadi bisa dieksekusi di lapangan, memastikan kebijakan tadi bisa dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan. Nah, bagaimana dengan di tempat di mana kita tidak punya jabatan? Partai Perindo tetap harus kerja keras. Kenapa? Karena perjuangan itu tidak menunggu jabatan," kata Angela.