Menteri PPPA Prihatin Siswa SD Akhiri Hidup di NTT: Tak Punya Tempat Bercerita

Binti Mufarida
Menteri PPPA Arifah Fauzi. (Foto: Binti Mufarida)

"Mungkin penyebab utama adalah kemiskinan, sehingga orang tua tidak bisa mendampingi secara utuh. Orang tuanya single parent yang bekerja sepanjang hari, mungkin komunikasi juga tidak terjalin dengan baik," tegas Arifah.

"Ini harus diselesaikan bersama-sama lintas sektor supaya sebagai antisipasi supaya ini tidak terjadi lagi. Cukup sekali dan terakhir gitu," tambahnya.

Menindaklanjuti kasus ini, Arifah mengatakan telah menerjunkan tim untuk memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban, termasuk nenek, ibu, dan dua saudara kandungnya. Selain fokus pada pemulihan trauma, Arifah juga memastikan masa depan dua kakak korban yang masing-masing berusia 17 dan 14 tahun tetap terjamin.

"Kami berkoordinasi dengan dinas terkait bagaimana kedua kakak dari korban, yang satu usia 17 tahun, yang kedua 14 tahun, untuk bisa mendapatkan hak-haknya yaitu terutama hak pendidikan," ujar Arifah.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan, akan diupayakan supaya kedua kakaknya ini bisa mendapatkan pendidikan," pungkasnya.

Editor : Rizky Agustian
Artikel Terkait
Jatim
5 hari lalu

Jusuf Kalla Sebut Faktor Kemiskinan Picu Kasus Siswa SD Bunuh Diri di Ngada NTT

Regional
6 hari lalu

Kemendikdasmen Buka Fakta Siswa SD Gantung Diri di Ngada NTT Penerima PIP

Nasional
7 hari lalu

Kemendikdasmen Soroti Anak SD Akhiri Hidup di NTT: Ini Kejadian Sangat Serius!

Nasional
7 hari lalu

Prabowo Beri Atensi Anak SD Akhiri Hidup di NTT, Minta Kejadian Serupa Tak Terulang

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal