"Kami juga mencatat RPH rusak sebanyak 58 unit, alsintan hilang mencapai 2.300 unit, BPP rusak 74 unit, bendungan rusak 3 unit, irigasi rusak 152 kilometer, dan jalan produksi rusak 820 unit," katanya.
Amran menyebut, data kerusakan dan kematian akibat banjir Sumatra bersifat dinamis. Namun, pihaknya terus berupaya untuk membantu memulihkan sektor pertanian di tiga provinsi terdampak.
Salah satu caranya, dengan mengoptimalkan anggaran yang tersedia di tahun 2026 maupun dengan mengusulkan anggaran tambahan. Untuk alokasi anggaran APBN Kementan 2026 yang siap digulirkan guna pemulihan pascabencana mencapai Rp1,49 triliun.
Dana itu diperuntukan rehabilitasi lahan sawah ringan, sedang dan irigasi sebesar Rp736,21 miliar, bantuan benih tanaman pangan Rp68,6 miliar, rehabilitasi kawasan perkebunan Rp50,46 miliar, serta penyediaan alsintan pupuk pertisipasi sebesar Rp 641,25 miliar.
Dia menyebut, bantuan itu akan diprioritaskan untuk wilayah yang paling terdampak di ketiga provinsi, khususnya lahan sawah rusak ringan hingga sedang. Untuk sawah yang rusak berat, ia berkata, proses rehabilitasi memerlukan sinergi yang kuat dengan Kementerian ATR/BPN.