Faktor eksternal lain yang memperparah tekanan terhadap rupiah adalah beralihnya ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed).
Beralih ke faktor domestik, Ibrahim menyoroti mengapa penurunan harga minyak mentah dunia kali ini gagal memberikan daya dongkrak atau sentimen positif bagi Rupiah.
Rupiah justru melempem sendirian akibat ketakutan pasar terhadap pengelolaan defisit anggaran negara serta polemik restrukturisasi regulasi tata niaga ekspor.
Kebijakan pembentukan satu pintu perdagangan komoditas strategis melalui Danantara dinilai mengundang sentimen negatif dari lembaga pemeringkat kredit internasional, yang berisiko memukul kredibilitas surat utang nasional.
"Kemudian yang ketiga ya tentang kebijakan-kebijakan yang kurang pro terhadap pasar ya ini yang membuat kemungkinan besar rupiah ini masih akan terus mengalami pelemahan dan pelemahan ini kemungkinan akan berlanjut besok ya ada 50-60 poin pelemahan," kata dia.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.740-Rp17.800 per dolar AS.